
“mikir-mikir lagi kalau mau ke #bali. terlalu banyak mudharatnya.”
Begitu kicauan (tweet) salah seorang pengguna twitter di akunnya sekitar tiga hari lalu. Aku menemukannya di antara ratusan kicauan dengan hash tag #bali. Kicauan itu langsung menggelitik pikiranku soal ironi turis domestik di Bali.
(03:13:08 PM) Kelly Leung has buzzed you!
Pesan itu langsung masuk pas aku buka Pidgin Messenger sore ini. Lalu berlanjut seperti di bawah ini.

iPad hadiah dari detik.com pun datang. Dan, aku langsung ingat lagi dengan kakek penjual sapu lidi itu.
Kakek itu aku temui sekitar dua minggu lalu pas mau berangkat kerja. Dia menjajakan alat-alat untuk membersihkan rumah, seperti sapu lidi, keset, dan semacamnya.

Laki-laki itu mengejar seperti mau menerkam kami.
Dia berlari di samping motorku menjelang masuk pintu gerbang terminal Ubung, Denpasar sore tadi. Aku di atas sepeda motor. Di belakangku ada Bani, anakku, dan Udin, keluarga dari Jakarta yang mau ke Malang.




















