Rumah Tulisan header image 2

Antara Ritual dan Tradisi Kekerasan

June 15th, 2008 · 6 Comments

Lima laki-laki itu menari membawa api di tangan kanannya. Kedua tangan merentang. Api menyala dari tambang yang dibakar. Lalu, dengan posisi di bawah lengan kiri, api itu digerak-gerakkan. Dari ujung jari ke bahu. Mereka membakar tangan itu!

Tapi tidak ada sakit. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Nafsiah Mboi yang dibakar kedua tangannya pun hanya tersenyum. Peserta lain, yang tangannya dibakar, malah berseru, “Rasanya dingin.”

Tari Pepe-pepe, tari khas Sulawesi Selatan, jadi salah satu tari yang dipertunjukkan pada malam ramah peserta Pertemuan Nasional Harm Reduction (PNHR) II di Benteng Rotterdam Makassar malam ini. Menurut pembawa acara yang cantik itu, tari pepe-pepe merupakan simbol dari perjuangan Ibrahim, salah satu nabi dalam Islam, ketika dibakar raja Namrud. Karena itu penari juga harus dibakar seperti halnya Ibrahim pada saat itu.

Melihat orang dibakar yang tidak merasa sakit, tentu saja aku kagum. Tapi muncul pula rasa heran, tepatnya tidak bisa menerima secara akal sehat. Bagaimana bisa. Orang dibakar kok tidak kesakitan.

Tapi ada tarian lebih sadis lagi, ngurek! Aku melihatnya Rabu pekan lalu, ketika liputan tentang odalan di Pura Beten Kepah, milik keluarga (bekas) petani di Pecatu, Bali. Sebagai bagian dari upacara tiap enem bulan sekali itu, pengempon (mereka yang bersembahyang) di pura itu harus melakukan ngurek.

Dan, ngurek itu memang sadis. Bagaimana tidak. Penari membawa keris lalu menusuk-nusukkan ujung keris itu ke dada. Mereka yang kerauhan (semacam kesurupan) menancapkan ujung keris itu lalu mendorongnya kuat-kuat. Tapi tidak ada darah yang tercecer. Tidak ada yang menjerit karena sakit.

Tari pepe-pepe di Makassar dan ngurek di Bali adalah dua hal yang belum masuk di logikaku. Kenapa para penari itu tidak merasakan sakit apa pun ketika melakukan sesuatu yang sebenarnya menyakitkan?

Bukan hanya di Makassar dan Bali, ada beberapa contoh lain tari-tari yang berbau kekerasan. Tari rodat oleh warga Kampung Bugis di Bali selalu dilakukan dengan membawa pedang. Atraksi debus di Banten dilakukan dengan membacok-bacokkan pedang pada badan. Tari kabasaran di Manado malah dengan cara mengiris lidah, sama halnya dengan debus.

Inilah tradisi kekerasan yang terus saja kita pelihara. Tak heran kita pun akrab dengan begitu banyak kekerasan.

Tags: Perjalanan · Pikiran

6 responses so far ↓

  • 1 ick // Jun 16, 2008 at 12:50 pm

    “Tari pepe-pepe di Makassar dan ngurek di Bali adalah dua hal yang belum masuk di logikaku. Kenapa para penari itu tidak merasakan sakit apa pun ketika melakukan sesuatu yang sebenarnya menyakitkan?”

    mereka tidak merasakan sakit karena mereka sedang tidak sadar… atau nama balinya karauhan oleh leluhur maupun betara [tuhan].

  • 2 ghozan // Jun 16, 2008 at 6:33 pm

    idem dengan ick: sepertinya di Indonesia banyak hal yang tidak bisa diterima dengan akal sehat dan logika tapi ternyata ada. seperti bantuan BLT yang disunat dengan dalih biaya administrasi. cuma ada di Indonesia kan? :D

  • 3 wira // Jun 16, 2008 at 10:34 pm

    sebenarnya orang indonesia itu punya banyak kekuatan dan keunikan, tp heran, kok ga bisa maju ya…?

  • 4 mohammad // Jun 17, 2008 at 12:10 am

    hampir semua tarian tradisional kita adalah tari bertema perang-perangan, membawa tombak, pedang, panah, dll.

    Misalnya, untuk menyambut tokoh atau pesajab pusat, bupati di daerah sebut saja Lamongan (hehehe… hidup lamongan!), bakal menyambut sang tamu dengan tari perang2an bawa arit dan klewang…

    memang, disamping memiliki filsafat “the spirit of warrior” atau “struggling to the death” atau “patriotism”, tarian2 tersebut juga menunjukkan bahwa tradisi kita relatif dekat dengan budaya kekerasan.

  • 5 setanmipaselatan // Jun 18, 2008 at 7:47 pm

    ahahaha, paradoks ya, oom? :mrgreen:

  • 6 antonemus // Jun 30, 2008 at 1:38 pm

    @ ick: tetep aja ngeri meliatnya.

    @ ghozan: walah. larinya kok ke BLT.

    @ wira: mungkin karena tidak tau bahwa keunikannya itu unik dan tidak ada di tempat lain. makanya merasa biasa saja. padahal itu berbeda.

    @ mohammad: walah. mosok ning lamongan yo enek ngene juga. tak pikir cuma disambut pake pengajian. :D

    @ setanmipaselatan: iya, tante. memang paradoks.

Leave a Comment