<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Bias Kelas dalam Ketidakadilan Iklim</title>
	<atom:link href="http://www.rumahtulisan.com/03/02/2009/kliping/bias-kelas-dalam-ketidakadilan-iklim.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.rumahtulisan.com/03/02/2009/kliping/bias-kelas-dalam-ketidakadilan-iklim.html</link>
	<description>Maka, menulislah untuk berbagi. Agar kisahmu abadi..</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Aug 2010 03:32:58 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
	<item>
		<title>By: PanDe Baik</title>
		<link>http://www.rumahtulisan.com/03/02/2009/kliping/bias-kelas-dalam-ketidakadilan-iklim.html/comment-page-1#comment-4717</link>
		<dc:creator>PanDe Baik</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 13:54:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rumahtulisan.com/?p=1033#comment-4717</guid>
		<description>ck ck ck... postingnya puanjang. komen pertama juga puanjang. 
kalo saya sih cukup &#039;itu&#039;nya saja yang puanjang. :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ck ck ck&#8230; postingnya puanjang. komen pertama juga puanjang.<br />
kalo saya sih cukup &#8216;itu&#8217;nya saja yang puanjang. <img src='http://www.rumahtulisan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ikads.net &#187; Blog Archive &#187; Adopsi Internet ala Metro TV.</title>
		<link>http://www.rumahtulisan.com/03/02/2009/kliping/bias-kelas-dalam-ketidakadilan-iklim.html/comment-page-1#comment-4713</link>
		<dc:creator>ikads.net &#187; Blog Archive &#187; Adopsi Internet ala Metro TV.</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 19:31:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rumahtulisan.com/?p=1033#comment-4713</guid>
		<description>[...] seorang blogger yang produktif. Hingga beberapa hari yang lalu dalam kumpul-kumpul tidak resmi BBC, Anton bos BBC bertanya, &#8220;Mana tulisan [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] seorang blogger yang produktif. Hingga beberapa hari yang lalu dalam kumpul-kumpul tidak resmi BBC, Anton bos BBC bertanya, &#8220;Mana tulisan [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Arif Nofiyanto</title>
		<link>http://www.rumahtulisan.com/03/02/2009/kliping/bias-kelas-dalam-ketidakadilan-iklim.html/comment-page-1#comment-4712</link>
		<dc:creator>Arif Nofiyanto</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 00:31:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.rumahtulisan.com/?p=1033#comment-4712</guid>
		<description>Tiba tiba aku inget Ngurah Suryawan. Dulu di &quot;aka&quot; pernah kami gontok-gontokan masalah &quot;kelas&quot;, ketika itu aku mempertahankan penggunaan kata &quot;kelas&quot; dan Suryawan menolak mentah mentah.

Hal yang sebaliknya sekarang, aku ga lagi suka dengan ide &quot;kelas sosial&quot; dengan berbagai alasan.

Jaman sudah berubah, beban yang di tanggung setiap orang yang dalam konteks ini sama, yakni terkena dampak pemanasan global. Hanya saja, efek langsungnya yang berbeda. Nelayan, petani terkena dampak langsung, yang lain kena dampak rentetan.

Mengingat itu, yang menjadi korban bulan lagi &quot;kelas&quot; tertentu, melainkan semua. Yang  &quot;paling paling&quot; merasakan dari tulisan diatas memang petani, tapi itu bukan alasan menempatkan mereka pada kelas yang berbeda dalam masalah global yang sama. Jadi menggunakan istilah kelas kurasa ga pas karena batasan-batasan kelas sudah tidak diperlukan disini. 

Lalu apa kemudian?
Kampanye dua arah perlu dilakukan, kepada mereka yang menjadi korban langsung dengan menyebar solusi-solusi alternatif dan kepada penentu kebijakan global dengan memberi tekanan-tekanan yang kompak. Bukan seuatu yang ringan, namun bukan juga ga mungkin untuk diperjuangkan.
----
 oot: kmaren baru aja lode komen tulisanku panjang, nggonmu iki luweh puaaanjang! Semangat!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tiba tiba aku inget Ngurah Suryawan. Dulu di &#8220;aka&#8221; pernah kami gontok-gontokan masalah &#8220;kelas&#8221;, ketika itu aku mempertahankan penggunaan kata &#8220;kelas&#8221; dan Suryawan menolak mentah mentah.</p>
<p>Hal yang sebaliknya sekarang, aku ga lagi suka dengan ide &#8220;kelas sosial&#8221; dengan berbagai alasan.</p>
<p>Jaman sudah berubah, beban yang di tanggung setiap orang yang dalam konteks ini sama, yakni terkena dampak pemanasan global. Hanya saja, efek langsungnya yang berbeda. Nelayan, petani terkena dampak langsung, yang lain kena dampak rentetan.</p>
<p>Mengingat itu, yang menjadi korban bulan lagi &#8220;kelas&#8221; tertentu, melainkan semua. Yang  &#8220;paling paling&#8221; merasakan dari tulisan diatas memang petani, tapi itu bukan alasan menempatkan mereka pada kelas yang berbeda dalam masalah global yang sama. Jadi menggunakan istilah kelas kurasa ga pas karena batasan-batasan kelas sudah tidak diperlukan disini. </p>
<p>Lalu apa kemudian?<br />
Kampanye dua arah perlu dilakukan, kepada mereka yang menjadi korban langsung dengan menyebar solusi-solusi alternatif dan kepada penentu kebijakan global dengan memberi tekanan-tekanan yang kompak. Bukan seuatu yang ringan, namun bukan juga ga mungkin untuk diperjuangkan.<br />
&#8212;-<br />
 oot: kmaren baru aja lode komen tulisanku panjang, nggonmu iki luweh puaaanjang! Semangat!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
